Minggu, 18 Januari 2015

Hanya Suri Sementara



Ternyata lebih nyaman untuk mendiamkanmu.
Membiarkanmu disitu saja.
Sebab, pada waktu yang panjang dan terus mengikis ini.
Akulah yang tak bisa pergi.
Entah langkah atau takdir yang selalu saja
Mengembalikan aku pada tempat dimana kita melepas ego masing-masing.
Bersama hujan..
Ada rindu yang tertahan..
Namun waktu..
Lambat laun mematikan rasaku pada rindu..
Ia tak benar-benar mati..
Hanya suri sementara..

Jumat, 16 Januari 2015

Ah.. Sudahlah!



Hujan sulit ditebak belakangan ini. Kadang dengan semangat ia menghampiri pagi. Namun, lebih sering ia mengunjunginya di malam hari. Aku tak gentar ketika hujan berkeroyokan datang. Tubuh mungil tanpa jas hujan menerjang hujan begitu saja. Aku tahu.. aku bisa sakit jika terus menerus begini. Panah-panah langit menyerbuku. Rintik nya benar-benar membuatku ingat tentang kisah di balik hujan yang berusaha kita selamatkan. Hmm.. Tak ada yang di selamatkan sebenarnya. Tak ada. Semua ini semata-mata untuk memenuhi perintah-Nya, itu saja. Bukti bahwa aku dan kamu lebih mencintai-Nya. Dan keyakinan akan takdir-Nya lebih indah dari pada perencanaan yang kita anggap indah sebelumnya. Ya, sebelum hidayah datang menyapa kita berdua. Sebelum kita berada di sini, tanpa sapa dan rindu yang semakin terabaikan.

Kisah itu, ah sudahlah... Jarak rumah semakin jauh, wanita mana yang suka pulang larut malam apalagi dengan kondisi jalan yang sepi dan berada jauh dari jalan raya. Kalau bukan karena... ah.. sudahlah semua ada perhitungannya dan aku tak perlu bersusah payah menghitungnya. Sering ku seka airmata atau kubiarkan ia meleleh begitu saja sampai angin mengeringkannya sendiri. Tuhan... aku yakin pada janji-Mu. Aku yakin.

Rumah, selalu menjadi tempat berpulang yang paling aku rindukan. Langit-langit putih menghiasi kamarku. Aku menerawang jauh, pikiranku terhenti pada memori itu lagi. Hanya merindukanmu,  itu saja, tak ada kata lain yang keluar ketika merebahkan tubuh lelah ini di atas kasur. Entah ketika memejamkan mata, ada rasa yang tetiba muncul dan terasa sesak menyelubungi kemudian. Benarkah aku merindukanmu? Benarkah selama ini aku pergi lalu pada pintu rumahmu lah aku kembali terhenti? Kemudian aku kembali pergi dan pada pintu rumahmu lagi langkah ku terhenti.
Ah.. sudahlah.. kembali aku harus mengabaikan.