Hujan sulit ditebak belakangan
ini. Kadang dengan semangat ia menghampiri pagi. Namun, lebih sering ia
mengunjunginya di malam hari. Aku tak gentar ketika hujan berkeroyokan datang. Tubuh
mungil tanpa jas hujan menerjang hujan begitu saja. Aku tahu.. aku bisa sakit
jika terus menerus begini. Panah-panah langit menyerbuku. Rintik nya
benar-benar membuatku ingat tentang kisah di balik hujan yang berusaha kita
selamatkan. Hmm.. Tak ada yang di selamatkan sebenarnya. Tak ada. Semua ini
semata-mata untuk memenuhi perintah-Nya, itu saja. Bukti bahwa aku dan kamu
lebih mencintai-Nya. Dan keyakinan akan takdir-Nya lebih indah dari pada
perencanaan yang kita anggap indah sebelumnya. Ya, sebelum hidayah datang
menyapa kita berdua. Sebelum kita berada di sini, tanpa sapa dan rindu yang
semakin terabaikan.
Kisah itu, ah sudahlah... Jarak rumah
semakin jauh, wanita mana yang suka pulang larut malam apalagi dengan kondisi
jalan yang sepi dan berada jauh dari jalan raya. Kalau bukan karena... ah..
sudahlah semua ada perhitungannya dan aku tak perlu bersusah payah
menghitungnya. Sering ku seka airmata atau kubiarkan ia meleleh begitu saja
sampai angin mengeringkannya sendiri. Tuhan... aku yakin pada janji-Mu. Aku yakin.
Rumah, selalu menjadi tempat
berpulang yang paling aku rindukan. Langit-langit putih menghiasi kamarku. Aku menerawang
jauh, pikiranku terhenti pada memori itu lagi. Hanya merindukanmu, itu saja, tak ada kata lain yang keluar ketika
merebahkan tubuh lelah ini di atas kasur. Entah ketika memejamkan mata, ada
rasa yang tetiba muncul dan terasa sesak menyelubungi kemudian. Benarkah aku
merindukanmu? Benarkah selama ini aku pergi lalu pada pintu rumahmu lah aku
kembali terhenti? Kemudian aku kembali pergi dan pada pintu rumahmu lagi
langkah ku terhenti.
Ah.. sudahlah.. kembali aku harus
mengabaikan.