DIBALIK DERAI HUJAN
Banyak kisah terpendam yang muncul kepermukaan saat harus mengabiskan waktu sendiri menunggu
hujan reda. Cuma bisa terpaku di layar laptop sendirian.
Harusnya bisa pulang
lebih awal. Tapi hujan memenjara diri disudut kantin terapik. Hujan, berapa
windu yang telah kita lalu bersama hujan yah?
Malam itu hujan juga mengiringi langkah kita ketika kamu
dengan sukarela mengantarku pulang. Ada kejadian lucu malam itu, tak ada
kendaraan yang kamu bawa, kecuali dirimu sendiri. Aku menghela nafas pendek
sambil menyeringai , “anak santri” gumamku sambil tersenyum kecil sendiri. Mungkin malam itu, kali pertama pula kamu
mengantar seorang wanita pulang kerumah.
“rumahku jauh dari sini” ujarku, ketika sampai di
persimpangan jalan. “sampai disini aja” kataku kembali menjelaskan, sambil
menyetop abang angkot untuk berhenti di tiga persimpangan jalan.
Anak panah hujan kembali berjatuhan, “langsung pulang? Gak
makan dulu?” katamu detik itu. “hmm, yaudah makan disitu aja yuk” aku menunjuk
salah satu tempat makan yang berbaris rapih di depan persimpangan.
Segelas kopi pesananmu, segelas teh hangat dan semangkuk sop
ayam pesananku. Malam minggu pertama dan terakhir sebelum kisah kita benar
benar berakhir.
Hampir enam bulan berlalu, namun derai hujan belum mampu
membawa bayangmu pergi. Bahkan, kadang bodohnya diri masih memakuku untuk tetap
menunggu ketidakpastian. “semester enam” ujarmu suatu hari, “tapi, aku gak bisa
janji” katamu lagi. Aku, hanya mengangguk pilu, melukis senyum dipipi. “iya,
lagi pula masih banyak yang harus kita capai” jawabku coba menabahkan hati
sendiri.
Hujan mereda, tak ada alasan bagiku untuk tetap singgah.
Langkah harus berlalu sebab waktu terus memacu. Aku pulang yah, biar ku titip
saja rindu pada hujan.
#hujan