Selasa, 19 November 2013

Cerita Hujan

DIBALIK DERAI HUJAN

Banyak kisah terpendam yang muncul kepermukaan saat  harus mengabiskan waktu sendiri menunggu hujan reda. Cuma bisa terpaku di layar laptop sendirian. 

Harusnya bisa pulang lebih awal. Tapi hujan memenjara diri disudut kantin terapik. Hujan, berapa windu yang telah kita lalu bersama hujan yah?

Malam itu hujan juga mengiringi langkah kita ketika kamu dengan sukarela mengantarku pulang. Ada kejadian lucu malam itu, tak ada kendaraan yang kamu bawa, kecuali dirimu sendiri. Aku menghela nafas pendek sambil menyeringai , “anak santri” gumamku sambil tersenyum kecil sendiri.  Mungkin malam itu, kali pertama pula kamu mengantar seorang wanita pulang kerumah.

“rumahku jauh dari sini” ujarku, ketika sampai di persimpangan jalan. “sampai disini aja” kataku kembali menjelaskan, sambil menyetop abang angkot untuk berhenti di tiga persimpangan jalan.

Anak panah hujan kembali berjatuhan, “langsung pulang? Gak makan dulu?” katamu detik itu. “hmm, yaudah makan disitu aja yuk” aku menunjuk salah satu tempat makan yang berbaris rapih di depan persimpangan.
Segelas kopi pesananmu, segelas teh hangat dan semangkuk sop ayam pesananku. Malam minggu pertama dan terakhir sebelum kisah kita benar benar berakhir.

Hampir enam bulan berlalu, namun derai hujan belum mampu membawa bayangmu pergi. Bahkan, kadang bodohnya diri masih memakuku untuk tetap menunggu ketidakpastian. “semester enam” ujarmu suatu hari, “tapi, aku gak bisa janji” katamu lagi. Aku, hanya mengangguk pilu, melukis senyum dipipi. “iya, lagi pula masih banyak yang harus kita capai” jawabku coba menabahkan hati sendiri.

Hujan mereda, tak ada alasan bagiku untuk tetap singgah. Langkah harus berlalu sebab waktu terus memacu. Aku pulang yah, biar ku titip saja rindu pada hujan.

#hujan

0 komentar:

Posting Komentar